Full Day School, Potret Matinya Pendidikan Kita

berita terbaru nu kita
Helmi Umam, Ketua Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin & Filsafat UINSA Surabaya.(Foto: Istimewa)
Rabu, 14 Juni 2017 - 04:25 WIB | Dilihat: 13.19k

NUKITA.ID, SURABAYAKementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberlakukan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan di seluruh Indonesia mulai Juli 2017. Dengan kebijakan ini, siswa SD hingga SMA (Sederajat) akan sekolah dari pagi hingga pukul 15.30 atau 16.00 WIB pada hari Senin-Jumat. Alhasil, siswa harus sekolah seharian (full day school).

Senyampang ingatan, saya pernah berpendapat soal ini, bahwa konsep pendidikan yang semakin mengulur waktu anak di kelas, itu tidak hanya tidak perlu tapi justru berbahaya. Bahwa sejatinya, kita tidak perlu perbandingan dari negara maju untuk berpikir demikian. Mau pelajaran umum atau agama, selama ia merenggut waktu keutuhan anak, ia tetap berstatus berbahaya.

Setidaknya ada tiga alasan kenapa sekolah seharian (full day school) berbahaya. Pertama, sekolah seharian akan membuat anak-anak tidak utuh menjadi manusia. Manusia yang utuh adalah manusia yang hidup di tiga tempat. Berkumpul dengan keluarganya, bermain dengan teman di lingkungannya, dan belajar di sekolahan. Mana saja di antara tiga tersebut, yang memenjara anak agar berlama-lama di dalamnya dan menghalangi agar tidak di tempat lain, maka ia jahat! Jika ada sekolah yang melakukan monopoli ini, maka ia juga jahat.

Kedua, anak yang hanya kebagian sedikit waktu bersama keluarga dan lingkungannya, maka akan menjadi anak-anak yang secara emosional tidak hangat. Ia akan tumbuh jadi pribadi yang mekanis, tertekan, dan kering.

Keluarga dan lingkungan adalah ladang nyata, sedang sekolah hanyalah polybag. Biarkan anak belajar mengarungi makna kehidupan dari ladang nyata yang memang serba tidak teratur, kadang kotor, dan mungkin banyak kesalahan. Mereka akan tumbuh kokoh dengan semua tantangan itu.

Ketiga, sekolah seharian (full day school) konon ditempuh bukan demi kepentingan pendidikan itu sendiri, namun justru untuk melayani nafsu para orang tua yang bekerja di luar rumah. Sekolah tidak lebih dari penitipan anak agar anak tidak buru-buru pulang ke rumah, karena rumah kosong.

Bahkan, para orang tua yang jadi guru di full day school juga berarti harus menitipkan anaknya di sekolah lain karena ia kerja seharian di sekolah berbeda. Selain berbahaya, kebijakan ini ternyata melahirkan pola yang aneh.

Baca juga: Pernyataan Sikap Pergunu Terhadap Wacana Full Day School

Bagaimana dengan Pesantren?

Dengan demikian, semua pesantren juga sama berbahayanya kecuali ia mengakomodir kepentingan tiga tempat tersebut. Bagaimanapun caranya, pesantren tidak diperbolehkan mengasingkan anak dari keluarga dan lingkungan sosialnya di luar kelas. Pada kebanyakan pesantren tradisional, akomodasi ketiga hal ini relatif masih aman.

Hingga kini, pondok pesantren tradisional menyatu dengan masyarakat setempat, membaur dan tidak eksklusif. Selain waktu besuk keluarga kandung yang lebih fleksibel, anak-anak pada pondok pesantren tradisional secara naluriah menemukan keluarga-keluarga imajiner mereka. Keluarga-keluarga ini bisa ditemukan pada warung-warung langganan atau tetangga kanan-kiri pondok.

Berbeda dengan pondok pesantren tradisional, akomodasi atas ketiga kepentingan ini biasanya dihambat oleh aturan yang ketat pada pondok pesantren modern. Simbol fisik memberi gambaran, betapa pondok pesantren modern memang didesain terpisah dengan pemukiman warga, berpagar dan terkunci.

Orang tua yang mengirimkan anak-anaknya ke pondok pesantren modern biasanya hanya berorientasi pada capaian kecakapan intelektual, bukan kecakapan hidup. Lebih-lebih sering kita tahu bahwa di beberapa pondok pesantren modern sudah lengkap tersedia makanan dan jasa cuci baju yang dikelola pengurus.

Nuansa kekeluargaan, pembauran, dan model pendidikan antara pondok pesantren tradisional dan pondok pesantren modern memang berbeda. Bagaimana kita mau menemukan pendidikan karakter di pondok pesantren modern, jika anak-anak sejak semula memang dibentuk untuk bersaing.

Sebaliknya, di pondok pesantren tradisional bahkan seorang anak kadang tidak belajar kognitif sama sekali dan hanya berburu barokah dengan membantu ‘ndalem’. Konon, mereka yang berhasil menangkap kelimpahan barokah ini biasanya menjadi tokoh-tokoh yang bermanfaat, besar, dan bisa diandalkan di tengah masyarakat. (*)

*Oleh Helmi Umam, Ketua Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin & Filsafat UINSA Surabaya.

Sumber: santrinews.com​


Pewarta : Kholiq Eko Prasetyo
Editor :
Tags : , , , , ,

Berita Lainnya

Comments: