Mengurai Benang Kusut

berita terbaru nu kita
Ach Dhofir Zuhri, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi Malang
Selasa, 13 Juni 2017 - 20:08 WIB | Dilihat: 13.13k

NUKITA.ID, MALANGMengapa rokok justru dikampanyekan negatif, padahal cukai tembakau 139 triliun pertahun untuk Republik ini, bandingkan dengan PT Freeport yang sangat merusak alam Papua, tetapi hanya memberi kontribusi 1,3 triliun pertahun untuk Negara ini? Tembakau tidak merusak alam, pabrik-pabrik rokok mempekerjaan jutaan pekerja pribumi, bukan pekerja asing seperti Freeport; tembakau dan kretek bukan penyakit sebagaimana dikampanyekan Amerika melalaui TV-TV swasta. Tembakau lebih tua dari pada sejarah Republik ini, dan tanah Indonesia adalah lahan terbaik bagi tembakau, cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Itulah alasan para penjajah terus menyerbu kita hingga kini.

Tentunya, Anda masih ingat dengan mobil Listrik yang kerap digunakan pak Dahlan Iskan sewaktu menjadi menteri atau juga mobil Esemka yang dijadikan kendaraan dinas ketika pak Jokowi menjabat walikota Solo? Mengapa karya anak-anak bangsa sulit untuk bersaing "merebut" hati konsumen dalam negeri? Apakah lantaran itu pula karya-karya monumental itu tidak diproduksi secara massal? Ada banyak perdebatan: tidak lulus uji emisi lah, mereka bukan menciptakan mobil, tapi hanya merakit, semacam koroseri lah, bahkan siswa SMA di Bandung merakit pesawat terbang. Intinya, nasib pabrikan otomotif asal Jepang dan Eropa akan sangat terancam, jika mobil nasional diproduksi secara massal. Ini soal kepentingan dan desain global.

Belum lagi mindset kebarat-baratan bangsa inlander ini yang enggan mengapresiasi karya dan produk dalam negeri, padahal di luar negeri karya-karya anak bangsa sangat diapresiasi. Contoh ringan, akhir 2014 kemarin, Khairul Anwar dkk menemukan teknologi komunikasi 4G LTE di Jepang. Tak terhitung lagi para diaspora bangsa ini yang justru lebih dihargai di luar negeri dari pada di tanah kelahirannya sendiri.

Tidak hanya di bidang saintek, dalam kesusastraan misalnya, sastrawan kebanggaan kita, Pramoedya Ananta Toer (wafat 30 April 2006 pada usia 81 tahun), telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Ia enam kali menjadi kandidat peraih Nobel sastra terkuat dari Asia Tenggara, tetapi karena kerap dibredel dan dicekal Orde Baru serta minimnya publikasi oleh kedutaan-kedutaan kita di luar negeri, sampai meninggal pun, kita tidak menyaksikan ia meraih penghargaan prestisius dari Svenska Akademien itu.

Belum lagi di bidang olahraga, Ellyas Pical, juara dunia pertama di ring tinju yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Pical yang tidak lulus SD itu kemudian bekerja sebagai satpam di sebuah diskotik di Jakarta. Karena keterbatasan ekonomi, ia menjual medali emasnya untuk biaya hidup. Kemudian, ia ditangkap pada 13 Juli 2005 oleh polisi karena melakukan transaksi narkoba di sebuah diskotik. Penangkapannya sempat menuai kritik dari berbagai pihak yang menyoroti tidak adanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan Negara. Pical lalu divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 

Ada sebilah tanya yang terus menikam sampai ke jantung kesadaran belakangan ini, terutama bagi para akademisi yang memang akrab dengan buku-buku, perihal: (1) mengapa kerap kali tidak ada sinergi antara ilmuwan, birokrat dan atau para pengusaha untuk menjadi sponsor bagi karya-karya dalam negeri? Seolah masing-masing mereka bekerja sendiri-sendiri demi partai, gerombolan dan konsorsium mereka sendri. Masih adakah jiwa nasionalisme dan patriotisme warisan leluhur di dada mereka? (2) generasi macam apakah yang sebenarnya paling layak untuk memimpin, mengubah dan membangun sejarah? Sedemikian elit dan agung sejarah peradaban umat manusia, sehingga yang menggagas peradaban dan menginisiasi dan lalu membelokkan arus sejarah adalah orang-orang tertentu pula, bukan sembarang generasi. Nah, pertanyaannya: generasi macam apakah penentu sejarah dan gerak zaman yang mampu mengurai benang kusut serangkain persolan Negeri? 

Perdebatan terus bergulir, sekian teori dan diskursus kian menggelinding, sementara itu konflik dan kesenjangan makin meruncing. Terdapat silang-sengkarut yang tak terurai pada setiap kemajuan fisik-infrastruktur. Hal ini wajar, lantaran setiap laju peradaban selalu melibatkan banyak elemen, lebih tepatnya gesekan antar elemen masyarakat, misalnya: pembangunan mall, jembatan, pasar terpadu, pembangunan pabrik, dll, ia akan terus dikuti oleh gelombang protes dan pro-kontra. Kita saksikan misalnya, para aktivis sangat kritis di jalanan, tetapi begitu menjadi pejabat, tiba-tiba lenyaplah sikap kritis mereka karena terlalu sering duduk di kursi empuk dan ruang ber-AC.

Pada saat yang sama, sejarah bukanlah benda mati, ia adalah organisme hidup yang dinamis dan elastis, tanpa terkecuali sejarah peradaban. Adalah keliru kalau masing-masing komponen, baik pemerintah, politisi, akademisi, teknokrat, pengusaha dan bahkan tokoh agama, merasa paling berperan menentukan sejarah umat manusia. Namun sekali lagi, kerana mental centeng dan anjing penjajah mendarah daging, setiap kali ada persoalan (kemiskinan, pengangguran, kesulitan lapangan kerja, layanan publik, layanan kesehatan, dan birokrasi lainnya), selalu yang dicari-cari kambing hitam. Mengapa bangsa ini hanya terdidik mencari dalang, menuding-nuding otak di balik peristiwa, menguak "siapa" yang salah dan bukan "apa" yang salah, lalu diperbaiki bersama-sama?

Jika kita menggunakan pendekatan konsep Triple Helix, di mana gagasan utama Triple Helix adalah sinergi kekuatan antara ilmuwan (akademisi), pengusaha (bisnis) dan pemerintah (birokrasi), setidaknya benang kusut persolan dalam negeri ini akan berangsur-angsur terurai. Konsep Triple Helix sebagai sinergi antara "university-industry-government" ini mula-mula diinisiasi oleh Etzkowitz (1993) dan Leydesdorff (1995), yang meliputi relasi tritunggal (triadic relationship) untuk membangun ketahanan ekonomi, stabilitas politik dan tentu saja kemajuan pendidikan.

Logika sederhananya adalah, jika semua pejabat adalah produk dari sekolah (pendidikan), pertanyaannya: apakah kita sudah puas dengan kinerja para birokrat itu? Nah, jika ternyata kinerja meraka rerata mengecewakan, maka, sudah barang tentu ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Kemungkinan kedua, mata rantai kesalahan ini juga bermula dari kekacauan sistemik lainnya, baik di pemerintahan, birokrasi, pola rekruitmen pejabat, maupun kultur dunia usaha yang tidak sehat. Bagaimanakah mengurai benang kusut dari semua persoalan bangsa?

Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan dan teknologi, idealnya memfokuskan diri untuk berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Bukan malah menjadi ilmuwan menara gading yang tidak merakyat dan membumi (sembada, down to earth).

Berikutnya, kalangan bisnis seharusnya berbesar hati menjadi sponsor untuk memasarkan produk dan temuan para akademisi dan ilmuwan dalam negeri serta melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Jangan sampai cotton bud dan peniti saja kita impor dari China, kedelai, beras dan gula kita impor dari Thailand dan Vietnam seperti belakangan ini, sementara petani terus merugi, memalukan dan memilukan!

Di samping itu, pemerintah harus menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi yang kondusif, yang memanusiakan manusia, bukan saling menjegal dan menjagal. Sebab, akan ada tiga jenis percuma kemudian, yakni: (1) percuma saja menajdi profesor/guru besar, kiai, tokoh agama dan pimpinan ormas, jika ternyata murid-muridnya gagal dalam dunia industri atau bahkan menjadi mafia dalam dunia bisnis, dan celakanya, lalu korupsi berjamaah di pentas politik; (3) percuma menjadi pengusaha terkaya dengan mobil mewah melebihi jumlah hari dalam setahun, kalau tidak bisa dan atau enggan memanfaatkan hasil riset putra-putra daerah untuk dijadikan kebanggaan negeri; (3) percuma pula menjadi birokrat dan pejabat, apabila kerjanya hanya "jual-beli" pasal karet dan kebijakan publik, serta tidak mampu memberikan iklim politik yang sehat dan bersih lagi kondusif bagi tumbuhnya para akademisi dan pelaku industri handal yang berbasis riset demi kesejahteraan rakyat. Jika bangsa ini mau "berpuasa" menahan ego kelompok dan ambisi masing-masing, lebaran bernama kemajuan dan kejayaan tidak usah ditunggu, ia akan datang sendiri menyapa sekujur Negeri. (Bersambung).

*Penulis, Ach Dhofir Zuhri, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi Malang


Pewarta : Azizah Zamzam
Editor : Yatimul Ainun
Tags : , , , , ,

Berita Lainnya

Comments: