WADULAN = Karakter Anak-Anak

berita terbaru nu kita
, H Abu Yazid HM, MA, Ketua RMI NU Kabupaten Malang
Minggu, 11 Juni 2017 - 10:35 WIB | Dilihat: 13.11k

NUKITA.ID, MALANG"Koen engkok tak kandakno bapakku lho. Bapakku lho dadi pulisi, ngkok awakmu dicekel dilebokno penjara"

"Lha koen tak kandakno bapakku. Bapakku dadi tentara, ngkok awakmu ditembak cek mati. Kapok koen ..."

Siapapun orang dewasa yang benar benar dewasa (tidak berlaku bagi orang dewasa yang tidak bisa berfikir dewasa), pasti akan merasa geli dan tertawa ketika melihat anak anak kecil yg bermain akhirnya bertengkar dengan temannya karena hal yang sepele dan lumrah bagi anak anak.

Lucunya mereka saling sesumbar untuk wadul (mengadukan) kepada bapaknya yang diklaim sebagai seorang polisi dan tentara. Padahal bapak mereka hanyalah orang biasa yang tidak punya kekuatan dan kuasa apa apa seperti polisi dan tentara.

Sumbar dan wadul ini hanyalah trik anak-anak untuk menebar ancaman kepada temannya yg dianggap nakal itu agar takut kepadanya dan tidak mengusik dirinya lagi.

Minimal wadul itu dilakukan agar mereka merasa lega dan plong karena bisa merengek curhat kepada orang tuanya agar hilang kegalauan hatinya dan ortunya mau mendengar keluh kesahnya setelah disakiti temannya.

Kalaupun wadulan itu kadang dibuat buat atau dilebih lebihkan ceritanya oleh anak anak, sebenarnya hal itu juga dilakukan semata mata hanya untuk mencari simpati dan perhatian orang tua atau orang lain saja, tidak lebih..

Lain anak, lain pula orang dewasa. Meski memiliki sifat dan karakter yang sama sebagai manusia namun cara wadul orang dewasa yang belum dewasa jelas berbeda dengan anak anak ketika mereka merasa dianiaya dan 'dinakali' temannya.

Jika anak anak materi wadulnya biasanya tentang kenakalan dan merasa dianiaya oleh teman teman, maka orang dewasa biasanya tentang bagaimana mereka yang merasa dizolimi dan dikriminalisasi.

Jika anak anak wadul kepada orang tua maka orang dewasa biasanya akan wadul kepada imam besar, orang yang memiliki kekuasaan yang bisa melindungi mereka, maupun teman teman lain yang bisa mendukung dan bersimpati kepada mereka.

Jika anak anak suka membuat cerita yg dilebih lebihkan kepada orang tua agar dipercaya, maka orang dewasa akan menggunakan media sosial dan publikasi media untuk membuat buat cerita dan melebih lebihkan berita agar publik dan orang orang yang bersimpati bisa percaya kepada mereka.

Jika anak anak menebar ancaman dengan berbohong mengatakan bahwa ortunya tentara dan polisi, maka orang dewasa mungkin akan wadul dengan mengatakan bahwa yang melindungi mereka adalah teman teman kelompok mereka, komisaris besar dan jenderal tentara yang selalu mendukung gerakan mereka.

Dan begitulah cara wadul anak anak dan orang dewasa yg hakikatnya tidak jauh berbeda.

Jika memang demo dan aksi bela Islam 212 adalah klimaks dari gerakan politik Islam yang dianggap sukses, maka segala kewadulan yang terjadi saat ini hakikatnya adalah antiklimaks dari gerakan Islam politik yang tengah euforia dengan kemenangan. 

Maka wajar ketika mereka merasa didzalimi akhirnya berusaha untuk wadul kepada sang imam besar, komisaris besar dan jenderal besar yang dianggap bisa melindungi mereka agar mereka ikut serta membantunya dalam menghadapi teman-temanya yang dianggap nakal.

Wajar juga jika mereka wadul di media sosial dan media massa untuk mencari simpati dari teman temannya yang lain seraya 'mandhek-mandhekno' cerita bahwa mereka kini tengah dikriminalisasi.

Jika TNI mengatakan bahwa rakyat adalah ibu dan bapaknya, maka hakikatnya ummat adalah orang tua dari ormas ormas Islam yang ada. Dan jika kita sebagai umat merasa sebagai orang tua mereka, maka jadilah orang tua yang bijak dalam menghadapi segala kewadulan anak anak ini.

Sebab .. orang tua yang aneh adalah orang tua yang menganggap serius wadulan anak anak, seraya melabrak temannya yang dianggap nakal itu karena merasa anaknya tidak salah dan yang paling benar.

Dan orang tua yang bodoh adalah orang tua yg akhirnya ikut ikutan berantem dengan orang tua lain ketika anaknya berantem dengan anak lain karena persoalan sepele yang lumrah terjadi sebagai bagian dari kenakalan anak anak.

Mari jadi orang tua yang baik dan bijak dalam mendengar segala wadulan anak anak, agar mereka tetap bisa bermain dengan sportif dan damai dengan teman temannya, dan agar negeri ini tetap terjaga kedamaiannya. 

Karena kalaupun mereka tengah bertengkar dengan teman dan wadul dengan banyak alasan hakikatnya mereka tengah belajar untuk tidak nakal dan tidak wadulan. 

Sebab, bukankah mereka sendiri yang mengatakan bahwa mereka adalah golongan anak anak nakal? Maka tugas kita sebagai umat adalah mendidik mereka agar tidak menjadi anak yang nakal. Bukan malah ikut ikutan nakal.(*)

*Penulis, H Abu Yazid HM, MA, Ketua RMI NU Kabupaten Malang


Pewarta :
Editor : Yatimul Ainun
Tags : , , , , ,

Berita Lainnya

Comments: